Aku Merasa tak ada artinya..
tak ada bedanya aku dengan ketiadaan, dan ketiadagunaan..
sebab tak ada faedah dalam diriku, tak ada waktu yang ku manfaatkan.
kesenangan yang kudapat, hanya sebatas kesia-siaan..
bukannya aku takut mati, namun aku hanya takut tak berbekal nanti..
ketika pergi menelusuri padang akhirat yang panjang..
mencari syafaat, di padang tak bertepi..
sedang aku tak tahu di mana nabi ku, dan aku akan datang sebagai umat yang tak mentaatinya.
siang berganti malam, dan malam berganti siang
matahari berlalu, hari-hari telah pergi..
dalam skala detik yang cepat, dan dalam nafas-nafas menuju yang terakhir.
aku sesali ketika itu telah terjadi, waktu dunia tuk akhirat.
telah pergi dan tak kembali, padahal itu adalah ladang bercocok tanam bagi akhirat.
astaghfirullah adzim.
aku tak mau menunggu hikmah, biar aku yang mencarinya.
tak perlu aku menunggu kesadaran, karena sejatinya dunia adalah kasur yang empuk tidur dengan lenanya.
mata terbuka, namun hati tetap terpejam.
kesadaran akal seakan lenyap, ketika hati dan pikiran disibukan dengan mencintai perbendaharaan dunia.
ampuni aku, ya rahman ya rahim.
sungguh mereka itu lebih mulia dari pada saya,
bahkan mereka itu bukan dari kalangan jenis ku manusia.
mereka adalah sesuatu yang diciptakan untuk hikmah.
mereka adalah pelajaran yang dihidupkan.
mereka adalah makhluk allah swt yang tak berakal namun mereka bertawakal.
apa aku tuli, buta, bisu.. hingga indera ini sulit melihat kebesaran tuhan-NYA.
sedang itu tiap hari terjadi disekitarku.
kokok ayam itu lebih baik, karena itu adalah seruan berdzikir pada allah swt.
kicau burung yang merdu sebagai tanda tasbih di pagi dan petang.
diamnya pohon-pohon rindang yang berdzikir, tunduk, takut dengan keagungannya.
sedang pada malam jum'at seluruh pohon-pohon dan binatang melata bergemuruh takut,
sibuk bertasbih , memohonkan ampun untuk manusia, mendoakan keselamatan tuk manusia, dan
mereka sibuk berdzikir agar kiamat tidak di datangkan pada hari itu.
sedang tiap harinya, burung-burung bersahutan , berkata diantara mereka satu sama lainnya:
"segala puji bagi allah swt, hari ini adalah hari yang selamat"
kalau lah tidak mereka, binatang, tumbuh-tumbuhan, maka niscaya allah swt mungkin tidak turunkan hujan ditempat itu.
jikalah dibandingkan dzikir manusia dengan tumbuhan, maka dzikir manusia tidak artinya. bahkan , nabi ayub as mengatakan pada ulat kalaulah ia berdzikir pada allah swt, 10.000 kali setiap hari, sedang ulat berkata pada nabi ayub as , bahwa ulat itu berdzikir setiap nafasnya adalah dzikir.
kalau lah manusia dengan egonya menginginkan hari yang cerah pada waktu itu, namun tetap lah allah swt menurunkan hujan disebabkan hujan itu lebih dibutuhkan tumbuhan dan makhluk lainnya, agar mereka tetap bertasbih pada allah swt, dan malaikat-malaikat allah swt ikut bertasbih setiap waktu. andaikata tidak ada seperti itu, niscaya langit-langit dunia bisa pecah karena murka allah swt, dan bumi pun retak disebabkan banyak nya dosa manusia.
ini adalah sebuah renungan untuk-mu dan untuk aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar