setiap pagi aku menunggu sore hari, dan setiap sore aku menunggu esok, begitulah keadaan ku.
saat pagi aku benar-benar ingin bertemu sore yang ku pikir itulah suasana yang menyenangkan, karena disanalah aku bisa beraktivitas bermain bola, keliling kampung, ataupun bertemu dengan santriwati yang cakep-cakep hehe..(itu dulu).
bagaimana kalo sore hari hujan, itulah masalahnya. aku salah, ku pikir bukan ketika sore hari yang cerah dimana aku bermain didalamnya, bukan pas sore hari itu aku merasa senang. justru, saat sore harilah aku mulai resah, sebab ketika aku berdiri di waktu sore hari dan aku begitu merasa senang di dalamnya, apalagi aku bisa melakukan apapun yang ku inginkan, bermain sepak bola ataupun sekedar berjumpa dengan cewek santri yang subhanallah ...(sudah ku bilang, itu mah dulu). tapi ada satu hal yang selalu ada ketika aku senang,yaitu rasa gelisah yang selalu membuntuti kesenangan ku, sebab setiap apa yang ku senangi pastilah ada kadar waktunya, kesenangan dunia memang sementara.
lihatlah matahari yang seakan begitu cepatnya tuk tenggelam di kaki langit barat, seakan itu penanda semua ini akan berakhir, waktu yang dititipkan allah swt didunia amatlah sedikit. aku tak bisa berlama-lama berdiri di tanah lapangan yang hijau, di sebelah selatan kampungku pegunugnan yang indah, di bawahnya hamparan sawah yang menguning, dan langit-langit dunia diatasku mulai berubah jingga. satu hal yang harus ku lakukan, aku harus taat pada aturan waktu, bila waktu telah habis aku harus relakan semua itu terganti, berganti waktu berganti cerita, hari ini bersuka esok berduka, tiada tahu.. waktu yang berkuasa atas kehidupan manusia, waktu tak terlihat namun mengikat.. harusnya aku tak mengukur waktu dari panjang nya tahun ke tahun , ataupun peredaran bulan menuju bulan berikutnya. ada yang salah dengan cara aku melihat waktu, jam di dinding adalah mesin waktu yang di buat manusia namun bisa saja ciptaan manusia keliru.. setiap hari matahari terbit dan tenggelam, tapi aku tak pernah menyadari hal itu.
hari duka, ketika aku mensiakan waktu, dimana seluruh hari yang ku lalui telah pergi meniggalkanku, orang-orang yang ku cintai, kesenangan ku, benda-benda milik ku semua hancur karena masa waktu itu telah habis. bahkan yang lebih buruk lagi, ..hmmm..betapa bodohnya aku, ketika aku tak menyadari dimana sisa umurku di dunia terus berkurang. oh tidak, harusnya aku mengganti sistem pengukur waktu dirumahku dengan jam pasir, agar aku tahu setiap aku lalai dari padanya dan aku tidak segera melakukan perbaikan..aku yang akan terkurung didalam pasir itu.
ingin rasanya aku patahkan jarum panjang dan pendek pada jam itu, agar kiranya aku hanya melihat, hitungan satuan persekian detik saja, serasa hitungan mundur menuju kematian agar mereka paham bahwa nafas-nafas yang diambil adalah kesempatan hidup yang berharga.
" ketika aku di pagi hari, aku tak perlu menunggu sore hari yang cerah.. sebab jika aku menunggu dan mengharapkannya aku takut ia tak akan datang..lebih baik aku gunakan kesempatan ini untuk melakukan kebaikan walaupun kecil yang bermanfaat buat masa depanku, jikapun esok tidak lagi ada..akan ku simpan ini untuk waktu akhirat-ku.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar