aku duduk dalam bus menatapi pohon2 yang berjalan cepat, aku tahu padahal bus inilah yang melaju begitu cepat. aku menatap langit2 jingga dari kaca yang terbuka, angin nya begitu terasa hingga menerpa wajahku- aku bisa merasakannya. aku berbalik pada semua orang yang duduk lesu di setiap kursi. mata2 yang menatapku terlihat begitu lelah, tanpa expresi. hanya ada beberapa percakapan kecil di ujung kursi paling belakang, terdengar samar tertelan suara bus menderu-deru.
aku juga merasa lelah seperti mereka. teman disampingku memilih untuk tidur, burung dalam kandang yang di gantung tepat di atas kepalaku, begitu merasakan kedinginan oleh angin yang berhembus melewati kaca yang terbuka. waktu tlah merubah segalanya. padahal sebelum tiba di taman rekreasi, suara2 di dalam bus ini begitu ramai, gelak dan canda tawa slalui mewarnainya. meski macet yang terjadi sekitar satu jam lebih mereka masih terlihat ceria. kali ini, ketika menuju pulang semua nampak begitu sepi mungkin mereka lelah. hanya saja, aku masih ingin menikmati indahnya pemandangan taman matahari yang begitu alami. tapi apa boleh buat, lain kali saja mungkin.sekarang aku begitu merasakannya, waktu terasa berputar di depan mataku. aku duduk bersandar dengan mata yang menatap ke arah supir bus. aku melihatnya, jam dinding yang menggantung di atas kepalanya berputar. pukul 17.20 WIB. matahari tlah tertutup awan, hanya sinar2 yang panjang ke jinggaan bersinar menembus atas langit. aku terpejam, pikiran ku berkelana tanpa jelas. semua terasa berputar, dadaku bergetar hebat merenungi semua ini. hal yang tidak ku pikir sebelum ini, adalah kenyataannya aku sedang berjalan menuju masa depan. oh tuhan, kenapa dari dulu aku tak menyadarinya. aku tidak hanya berjalan menuju pulang tapi masa datang, jam itulah yang menyadarkan aku. sebab, aku tak tahu apa yang akan terjadi setengah jam yang akan datang, itulah masa depan. kerahasiaanya ada di tangan tuhan. lagi-lagi soal waktu, aku tak menyangka pertemuan singkat ini terasa begitu berharga. aku bisa mengenal wajah2 baru, walau tuk sementara. aku bisa berjumpa dengan mereka yang tadinya tak ku kenal ini semua tlah membukakan mataku. begitu banyak yang kulihat akan keajaiban dan keindahan yang tak akan pernah ku temui. sekarang, aku merasa bersyukur, walau harus berpisah kembali dengan mereka-seseorang.
lintasi bulan bebas lah terbang
lihat garis garis bumi melintang
jauh di angkasa kini aku memandang
tiada masa lalu yang terbentang
di ujung selatan laut membeku
di tanah utara hujan adalah salju
timur jauh adalah pusat ilmu
barat adalah dunia maju
namun, dunia tak menyimpan masa lalu
buku buku adalah ilmu
sejarah adalah kisah
perjalanan waktu adalah keliru
sebab buku sejarah tak mampu hidupkan masa lalu
puisi puisi rindu bernada sendu
nyanyian cinta berlagu rindu
syair syair baru bersajak rayu
sastra melaya beralur kisah haru
hanya dalam kalbu terlukis masa lalu
teman lama,
bukan berarti tak pernah berjumpa
kita adalah manusia sama
kecil kita riang tertawa
tumbuh bersama dalam agama
saat tua kita kan bersuka
mengenang lagu masa muda
dunia tidak tuli dan buta
mengenang kisah duka bahagia
saat mati kawan berduka
hingga di sisi pengasingan-Mu ia berdo'a
yang mati tak kan kembali, Maka
sekarang kita adalah Masa Lalu
Lebah madu bersemayam dalam batu
adalah Tuhan bersemayam dalam Kalbu
dekat laut tidak lah biru
dalam mendung biru langit adalah abu
siapa yang dekat adalah Ibu
Dan yang jauh adalah Masa Lalu
Hari akan berganti,'
Matahari s'lamanya kan pergi
Malam kian tenggelam
sampai bumi mati berotasi
ketika angin semakin dingin
cahaya hanya ada dalam lentera
dari jendela, Langit tinggalkan bulan sabit
dari sekarang, kita tinggal tuk masa Lalu
Masa lalu, itu aku
Masa lalu, juga untuk mu
Masa Lalu itu batang kayu
Bagai Lupuk di makan waktu
kini Hanya aku dan Kamu
Waktu menjadi lalu,
Muda pun Kan jadi Tua
Indah rupa, di makan Usia
Maka, jangan kembali tuk yang pergi